Petani Garam Butuh Perhatian Pemerintah

petani_garam

Petani garam di Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) meminta pemerintah Kota Palu untuk memperhatikan kondisi lahan dan petani garam yang selama ini tetap bertahan dibidang usaha kecil tersebut

“Kami sangat jarang mendapat perhatian dari pemerintah utamanya dalam mengembangkan usaha penggaraman yang kami telah geluti secara turun temurun,”Kata Sandi salah seorang petani garam di kawasan Pantai Talise.
Ia menyebutkan petani garam berjumlah 200 orang yang tergabung dalam beberapa kelompok dengan luasan lahan yang diusahakan mencapai 18 hektar dimana masing-masing petani mengelola dua hingga empat petak.

“Luasan penggaraman selalu saja terus berkurang seiring dengan pembangunan yang ada tanpa memikirkan keberlangsungan kehidupan para petani garam dan kami khawatir kedepan usaha ini pun sedikit demi sedikit akan hilang setelah diusahakan sejak tahun 1942,”ungkap Sandi yang meneruskan usaha orangtuanya sebagai petani garam sejak masa penjajahan Jepang.

Sekaitan dengan penghasilan dari usaha penggaraman tersebut, menurutnya tidak seberapa hanya dihargai Rp.60 ribu setiap karung yang berisi 50 kg dan harga sebelumnya petani hanya bisa mendapatkan harga Rp.30 ribu setiap karung berisi 50 kg sedangkan untuk jualan eceran mereka menjualnya Rp.5 ribu perliter.
“Nanti sekarang harganya naik, itupun dikarenakan produksi garam yang ada tidak sebanyak dulu lagi,”ujarnya.

Garam yang mereka produksi setiap bulannya bisa panen hingga enam kali jika cuaca panas dan setiap petak mereka bisa panen garam hingga 125 kilogram yang kemudian dipasarkan sendiri atau pembeli dari luar kota datang membeli langsung ketempat penggaraman mereka.

Sandi menyebutkan selain untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal di Kota Palu, garam yang mereka hasilkan diserap oleh kabupaten lainnya seperti Kabupaten Poso dan Morowali bahkan ada pula pembeli dari luar provinsi seperti pulau kalimantan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*