Satu Tahun Gempabumi Palu, Doa Lintas Iman Mengenang Mereka yang Wafat

 

Langit sore memerah

pucat. Lampu-lampu jalan menerobos menggantikan senja yang sebentar lagi meredup. Namun warga terus bersesakan di jalanan yang setahun terakhir ini sepi di tinggal penghuninya. Tampak keakraban satu sama lain. Saling mengabarkan kondisi masing-masing setelah setahun nyaris tak bersua.

Sore itu, Kompleks di blok A dan B BTN Petobo Permai yang disesaki rumah-rumah tak berpenghuni tampak ramai. Di atas lumpur kering yang menggunung harum bunga segar semerbak menyapu kawasan yang kini diisi dengan tumpukan ”artefak” gempa berupa material bangunan yang rusak. Sore itu warga Petobo menggelar tabur bunga mengenang 21 warganya yang wafat akibat tragedi 28 September 2018 silam.

Suasana sentimentil sangat terasa. Beberapa orang tampak tidak mampu menyembunyikan kesedihannya mengingat peristiwa naas itu. Ada jenazah sekeluarga yang baru ditemukan lima hari setelah kejadian. Ada pula yang

seminggu kemudian jasadnya baru berhasil dievakuasi tertimbun lumpur.

Mengutip data yang dirilis Ketua RT 1 Arman, korban terbanyak terdapat di blok A dan B. Kawasan ini adalah bagian terdepan yang mendapat limpahan lumpur hingga menimbun rumah-rumah dan menewaskan sejumlah penghuninya. Di Blok A, 11 jiwa meninggal, 21 rumah rusak ringan dan rusak berat dilindas lumpur dan material bawaan. Sedangkan di blok B, 4 orang meninggal 51 rumah rusak berat dan 2 rusak ringan serta 10 rumah hilang. Sedangkan di blok C, 1 orang luka ringan, 35 rusak ringan dan 14 rusak sedang serta 20 rumah rusak berat. Total ada 21 jiwa warga BTN Petobo yang meninggal akibat gempabumi tersebut. Beberapa di antaranya meninggal akibat diterjang tsunami di Anjungan Nusantara – Teluk Palu.

Usai tabur bunga, kesibukan sore itu terus berlanjut. Dari dalam masjid Al Mutaqien BTN Petobo, terdengar meriung doa tahlil yang dipimpin Sayed Agil Abubakar Alqadri. Diikuti seratus lebih jamaah.

Tak jauh dari masjid, terdengar koor lag

u lagu pujian. Pendeta Dominicus Randa Lintin dari Gereja Jemaat Kibaid Palu, membacakan firman Tuhan yang dinukil dari Kitab Perjanjian Baru Yohanes 3.16, dalam sebuah kebaktian yang dihadiri 50-an umat Kristiani. Kebaktian berlangsung di kediaman Noldi Siombo di BTN Petobo Permai.

Saat bersamaan prosesi doa umat Hindu berlangsung khidmat dipimpin pemuka agama Hindu I Made Wiranadi. Puluhan umat Hindu BTN Petobo tampak khusuk dalam doa doanya. Mengenang orang-orang terkasih yang telah mendahuluinya. Puncaknya adalah renungan yang diisi dengan ceramah/khotbah tiga pemuka agama secara bergantian. Bagi umat Islam, peringatan satu tahun gempa dan liquefaksi itu ditutup dengan pembacaan doa dan lantunan zikir.

Ketua RT 1 BTN Petobo Arman menjelaskan, peringatan setahun peristiwa gempa dan liquefaksi di BTN Petobo selain menjadi momentum menguatkan hubungan kekerabatan antarwarga yang sebagiannya masih memilih tinggal di luar BTN Petobo, juga mengingatkan bahwa musibah yang bisa datang kapan saja mengharuskan warga untuk membekali diri dengan pengetahuan mitigasi yang baik. Selain itu tentunya senantiasa mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. (kia/palu ekspres)

 

* (Tulisan Ini diambil dari Situs web paluekspres.co.id)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*