Fasilitas di Kawasan Industri Terus Dibenahi : “Komitmen Pemkot Untuk Jadikan Lokasi Pusat Produktiv

kipPALU – Lokasi kawasan industri di Kecamatan Palu Utara terus mendapat perhatian Pemkot Palu. Rencana penyediaan lahan sebesar 1.500 hektar tersebut diperuntukkan bagi pembangunan berbagai fasilitas industri. Yakni terdiri dari tiga zona pembangunan, zona pendidikan dan pelatihan, zona perdagangan dan zona pergudangan. Kini terus diupayakan kapasitasnya sebagai lokasi pusat industri terbesar di Kota Palu.Menurut Kepala Bidang Industri Aneka Disperindagkop dan UKM Kota Palu, Jermia Tapussa, dari 1.500 hektar area yang dipersiapkan kini sudah 25 hektar yang oleh Pemkot Palu telah dilakukan pembebasan lahan.

“Di atas lahan seluas 25 hektar itu sudah berdiri tiga unit bangunan industri yakni Pusat Pelayanan Industri Rotan Terpadu (PPIRT) dan UPT Mebel rotan serta Laboratoruim kakao,” ujarnya, kemarin.

Pembebasan lahan sebesar 1.500 hektar kata dia, memang dilakukan secara bertahap. Bahkan pada tahun 2009 yang lalu sekitar 100 hektar sudah masuk dalam daftar Detail Engineering Desain (DED) yang dilakukan oleh tim DED. Luas lahan 100 hektar ini sudah dilengkapi dengan berkas analisis dampak lingkungan (Amdal) yang dikeluarkan oleh Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Kota Palu.

“Luas lahan kawasan industri awalnya berada di Dusun Liku Kelurahan Lambara. Sedang untuk lahan seluas 100 hektar yang telah masuk daftar DED berada di Kelurahan Baiya. Di atas lahan ini akan segera dibangun LLK oleh Dinsosnaker Kota Palu,” terangnya.

Jermia memastikan, fasilitas yang ada di kawasan industri akan terus dibenahi. Pemkot berupaya untuk menjadikan kawasan ini sebagai pusat pengolahan Sumber Daya Alam (SDA), yang merupakan bagian dari Kompetensi Inti Daerah seperti kakao, rotan dan aneka olahan makanan.

Bahkan katanya, dari hasil produkstivitas yang dilakukan di PPIRT, sudah mampu men-display kebutuhan rotan setengah jadi sebanyak 60 persen dari total kebutuhan rotan untuk industri kerajinan di Indonesia.

“Kemampuan produksi rotan mentah menjadi setengah jadi, yang dilakukan di lokasi PPIRT setiap bulan mencapai 30-50 ton. Hasil ini merupakan stok yang ready, yang dihasilkan pekerja yang terhimpun dalam PPIRT sejak keberadaannya diresmikan oleh Menteri Perindustrian tahun 2008 yang lalu,” tuturnya.

Selain PPIRT yang mendapat perhatian Pemkot melalui Disperindagkop dan UKM Kota Palu. UPT Mebel rotan juga merupakan industri yang terus bergeliat menghasilkan aneka kerajinan dalam bentuk barang jadi untuk bisa dimanfaatkan oleh masyarakat lokal.

“Hasil industri di UPT Mebel Rotan saat ini masih mengejar pangsa pasar lokal. Tapi ke depan target pasar Nasional akan menjadi tujuan pasar berikutnya,” sebutnya.

Pada UPT Mebel Rotan kata Jermia, juga terdapat Koperasi Pengrajin Rotan (KOPINKRA). Kapasitas KOPINKRA selama ini sebagai koperasi yang membantu para anggotanya yang merupakan para pengrajin rotan. Untuk mendapatkan bantuan alat produksi, bahan baku dan bahan penolong.

“Disperindagkop berupaya untuk mendorong Pemerintah agar mengeluarkan satu bentuk regulasi. Ini untuk mengatur dengan jelas kapasitas kawasan industri, agar bisa dimanfaatkan oleh industri menengah hingga besar. Sedang untuk industri kecil akan diarahkan menempati untuk Lingkungan industri kecil (LIK) Tondo,” tandasnya. (ima)

Sumber : Radar Sulteng

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*