POCARI SWEAT

POCARI SWEAT
ini tentang cara pemaknaan terhadap suatu fenomena, setiap orang punya perspektif individual terhadap suatu peristiwa atau object. Dan hebatnya, kemampuan memberi makna itu, bisa sebagai indikator kreatifitas dan kedalaman pengetahuan, pengalaman dan insight terhadap suatu peristiwa.
Kalau dalam kitab suci, kita dianjurkan untuk mempelajari dan mentafakuri, bukan hanya ayat tekstual semata yang tercantum dalam al Quran, namun fenomena alam yang terjadi disekitar kita, perguliran siang dan malam, naik dan turunnya seorang penguasa, hina dan mulyanya suatu kaum, selalu diberi sinyal dengan sebuah pertanyaan metaforis dalam ayat-ayatNya “apakah kau tidak berfikir ?”.
Sambil iseng menunggu panggilan keberangkatan, minuman botol ini, menjadi suatu ‘yang lain’, bukan karena rasanya yang berbeda, tapi aksara yang ada di botol tersebut, minuman POCARI SWEAT, minuman yang rasanya mirip air kelapa muda, ditempatku. Tertulis di ingredien botolnya, berbagai bahan campuran mineral yang ditambahkan di minuman tersebut, dengan maksud sebagai ‘minuman plus’, isotonik, pengganti energi, katanya.
Saya, ingin memaknai lain tulisan pada minuman POCARI tersebut, tentu dari angel yang berbeda, khususnya dari konteks perencanaan pembangunan daerah khususnya tentang community empowering.
POCARI, terdiri atas enam huruf akronim, yang kesemuanya memiliki makna yang saling bertemali, sangat kuat, sebagai suatu unsur atau elemen pembangunan daerah, jika ingin, pembangunan suatu daerah dapat berjalan, sesuai pola dan alur pikir yang rasional.
Huruf O, adalah unsur Organisasi, inilah yang menggerakan pembangunan, cuma sayangnya, kita terlalu asik membicarakan, organisasi dalam dimensi milik pemerintah, dari tingkat pusat sampai daerah, sedangkan organisasi asli milik masyarakat, yang terbukti telah hidup dalam waktu yang panjang, tidak terlalu mendapat tempat yang layak, dalam disain proyek, mau lihat buktinya? Lihatnya sebegitu sering, para pengelola kegiatan, harus membentuk organisasi baru dimasyarakat, sebagai medium pelaksana proyeknya, seolah ngak percaya dengan organisasi lokal yang dimiliki oleh masyarakat, bahkan lebih parahnya, salah satu indikator keberhasilan proyeknya adalah jumlah lembaga yang terbentuk, how come… Cammon.
Huruh selanjutnya adalah C, menurutku itu adalah Capacity / kapasitas, hal ini menjadi pokok dalam suatu proyek, apalagi yang bernuansa pemberdayaan masyarakat, kalau hanya sekedar terlaksananya suatu kegiatan/proyek, namun tidak menambah kapasitas masyarakat atau pemerintah daerah, maka itulah ciri suatu kegiatan yang mubasir, sebesar apapun anggaran dihabiskan disitu, kepasitas inilah unsur yang akan membuat suatu kegiatan akan sustainable.
Huruf berikutnya adalah A, menurutku itu adalah Asset, pembangunan yang baik adalah pembangunan yang memanfaatkan aset lokal milik masyarakat, tidak semuanya di delevery pusat, tapi bisa generate aset yang ada di masyarakat, tentu saja aset yang dimaksud bukan hanya aset yang sifatnya tanggibel semata, seperti bahan dan alat, namun juga yang bersifat intangibel, seperti organisasi dan tata kerja yang telah terbukti hidup dikomunitas.
Huruh berikutnya adalah R, menurutku itu adalah Resources/sumberdaya, hampir mirip dengan aset diatas, namun sumberdaya lebih operasional dan lebih mudah untuk dikelola dalam kegiatan, pengelola proyek yang baik, hendaklah bertindak seperti dokter yang baik, yang memberi obat, ketika penyakit tersebut membutuh interfensi untuk diobati, bukan memberi obat, karena target, stock obat yang harus dihabiskan, sehingga penyakit yang tidak perlu diambil tindakan, namun dibombardir dengan sumberdaya yang tidak dibutuhkan masyarakat.
Huruf berikutnya adalah I, menurutku itu adalah Integrasi, jangan lagi pernah berpikir bahwa program/proyek hanya bisa diselesaikan dengan pendekatan tunggal, apalagi untuk kegiatan bernuansa pemberdayaan masyarakat, jangan ulangi kebodohan lama itu, hanya berpikir cepat saji, bantu bangun baru atau rehap yang dibutuhkan, maka dianggap itu sudah cukup sebagai succes story, untuk di foto dan dipamerkan, how come… Tidak sesederhana itu.
Sudah tersusun aksara OCARI, belum lengkap, asih butuh huruf P untuk melengkapinya, menurutku inilah inti dari kalimat ini agar menjadi sempurna, huruf P tersebut adalah Partisipatoris, atau keikutsertaan masyarakat dalam keseluruhan rangkaian, bukan hanya dalam tahap perencanaan semata, namun sampai pada tahap pelaksanaan bahkan penilaian hasil, bukan hanya sampai pada tahap penilain output saja, bahkan sampai pada penilaian outcome kegiatan, dan ngak usah khawatir, masyarakat sudah bisa melakukan itu, tentu saja dengan cara mereka, mereka sudah tahu kok, sebab mereka punya kapasitas alami untuk itu.
Khusus untuk huruf P atau partisipatoris ini, memang ada tingkatannya mulai dari tingkatan dasar yaitu mobilisasi, tokenisasi sampai pada tahap self regulation, tapi menurut sahabat saya Ashar Karateng, bahwa pendefenisian tersebut justru malah mengaburkan makna partisipatoris itu sendiri, beliau membagi menjadi dua saja, partisipatoris atau tidak partisipatoris, seperti membagi siang dan malam, sesederhana itu, tapi konsekwensinya sangat besar,
Iya.. Kembali ke minuman POCARI ini, ternyata rasanya sama saja, dimanapun kita membelinya, andaikata ada yang beda adalah pemaknaan baru dan situasi saat meminumnya.
Dan panggilan, untuk melanjutkan perjalanpun digaungkan dari pengeras suara, untuk segera bergegas.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*