Tugu Inkindo Diresmikan

Pelaksanaan Musyawarah nasional Khusus (Munnasus) Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (Inkindo) di Kota Palu, Provinsi Sulteng, resmi berakhir. Menandai berakhirnya kegiatan nasional Inkindo sebagai asosisasi yang bergerak di bidang usaha jasa konsultan, dilakukan peresmian tugu Inkindo di Kota Palu, Kamis (20/10). Tugu itu juga sebagai kenang-kenangan bahwa Palu pernah menjadi salah satu daerah kegiatan nasional Inkindo.

Monumen tugu Inkindo terletak di bundaran persimpangan Taman Ria Jalan Cumi-cumi, Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat. Tugu tersebut menjadi simbol sekaligus bukti nyata partisipasi anggota DPP Inkindo dari seluruh provinsi se-Indonesia terhadap pembangunannya di Kota Palu.

Plt. Sekretaris Kota (Sekkot) Palu Ir. Dharma Gunawan, didaulat meresmikan tugu Inkindo tersebut. Dia memberi apresiasi kepada pengurus DPP Inkindo Sulteng yang dipimpin Ir. Gufran Ahmad, karena sudah bisa membuktikan menjadi tuan rumah yang baik dalam penyelenggaraan Munnasus di Kota Palu.

“Dengan adanya monumen ini, kami sangat mengapresiasi DPN Inkindo terkhusus kepada DPP Inkindo Sulteng,” puji Dharma Gunawan.

Dia tak lupa menyatakan bahwa Kota Palu saat ini adalah kota yang terus berbenah dan ingin maju seperti layaknya kota-kota besar yang ada di Indonesia. Maka dari itu, siapa yang akan mendorong agar Palu bisa mengglobal, salah satunya adalah asosiasi profesi sekelas Inkindo.

“Secara ukuran, berapa nilai yang telah dikeluarkan anggota Inkindo bukanlah sesuatu yang penting, tetapi bagaimana menjadi penanda atau simbol bahwa musyawarah Inkindo pernah dilaksanakan di Palu, atau teman-teman Inkindo se-Indonesia pernah ke Palu,” lanjut Plt. Sekkot. Menurutnya, secara arsitektur Kota Palu mengandung tiga unsur, di mana Kota Palu dipandang sebagai kota yang memiliki ruang tengah, depan dan belakang.

“Dan saya percaya bahwa orang-orang di Inkindo adalah orang-orang pemikir bagaimana pembangunan. Mulai dari Kota Palu ini. Sehingga tidak salah jika disebut Inkindo untuk Indonesia,” katanya.

Berdirinya monumen Ikindo itu, setelah ditelusuri, ternyata mengandung beberapa filosofi yang terdapat di tugu berbentuk bundar tersebut.

Di tugu ini, terdapat bola dunia (globe) yang menunjukkan peta wilayah Indonesia. Di sisi lain, juga terdapat empat tiang penyangga tegak lurus ke atas, yang diberi warna tidak membosankan, yakni warna oranye. Berada di bibir Pantai Teluk Palu, tempat ini merupakan tempat strategis, di mana setiap pasang mata akan tertuju ke bundaran itu jika melintas di dekat situ.

Berdasarkan penjelasan dari Dharma Gunawan, tugu Inkindo yang terdapat bundaran di dalamnya, menunjukkan bahwa semua insan manusia adalah satu ikatan yang tidak terpisahkan, yang menunjukkan siklus keilmuan yang tidak pernah putus.

Kemudian, sesuatu yang tegak seperti adanya penyangga tiang tersebut, adalah sebagai simbol kebaikan. Lalu ada bentuk bundar, yang merupakan simbol setiap insan manusia laki-laki dan perempuan.

“Makanya, ada yang tegak, ada yang berbentuk bundar. Dalam artian, yang tegak harus tetap tegak, sementara yang bundar tetap bundar,” jelas Plt. Sekkkot Palu.

Di sisi lain, filosofi yang amat mendalam penurut Pemerintah Kota Palu, Tugu Inkindo juga disebut dengan Bundaran HI (Hi Kami). Hi Kami merupakan bahasa Kaili yang artinya, “Inilah Kami”. Dengan candaan, Dharma Gunawan juga menyebut bundaran HI itu bisa berubah arti ketika diartikan oleh Inkindo dengan kata Hibah atau Hadiah Inkindo.

Jika digali lebih dalam, ternyata tugu tersebut adalah tugu kedua yang dibangun oleh Inkindo di Kabupaten/Kota di Indonesia, setelah Patung Cendekia yang dibangun di Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat.

“Ini yang kedua dibangun oleh Inkindo di kota dan kabupaten di Indonesia,” sebut Ketua Umum DPN Inkindo Nugroho Pudji Raardjo, di sela-sela peresmian tugu Inkindo di Palu.

Olehnya, diharapkan mudah-mudahan menjadi tradisi secara terus menerus oleh Inkindo untuk berpartisipasi dalam pembangunan nasional.

“Dengan adanya tugu ini, jika kita datang lagi ke Palu, tidak hanya mengenang Kota Palu saja, tetapi juga dikenang oleh Kota Palu,” kata sang Ketua Umum.

Gufran Ahmad selaku ketua Umum DPP Inkindo menyebut bahwa pembuatan tugu tersebut dilakukan dalam waktu dua bulan sebelum pelaksanaan Munnasus di Palu.

“Setelah peresmian ini, kurang lebih 30 hari ke depan masih akan ada pemeliharaan untuk penyempurnaannya, karena masih perlu dirapikan lagi,” terang Gufran.

Mengutip kata Plt. Sekkot Kota Palu, Dharma Gunawan, bahwa jadilah tuan rumah yang baik dan tamu itu adalah rezeki. Makanya, kata Gufran, dengan adanya tugu Inkindo itu, dapat terus dijaga dan dipelihara untuk hubungan yang lebih baik. Tugu itu dapat menjadi sesuatu yang berkesan sekaligus bersejarah dalam perjalanan Inkindo, terutama bagi Inkindo Sulteng.

Dan Inkindo Sulteng telah banyak berkontribusi untuk Kota Palu. Sebab, selain tugu tersebut, secara khusus Ketua Umum DPP Inkindo DKI Jakarta Ir. Peter E. Frans juga memberikan santunan sebesar Rp. 25 juta kepada panti asuhan dan yayasan yang ada di Kota Palu dan sekitarnya, setelah hadir di acara Munassus Inkindo di Kota Palu. (Harian Umum Radar Sulteng/Sugianto)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*