Unit Usaha Pertumbuhan di Palu Paling Rendah

Jumlah Unit Usaha di Kota Palu terus mengalami pertumbuhan. Pada tahun 2006, jumlah unit usaha di Kota Palu tercatat sebanyak 35,9 ribu unit usaha. Angka tersebut didapatkan dari hasil sensus ekonomi yang dilaksanakan tahun 2006 silam.

Namun, dalam kurun waktu sepuluh tahun kemudian, tepatnya 2016 ini, jumlah unit usaha di Kota Palu hanya tumbuh hampir 29 persen, atau menjadi 46,1 ribu unit usaha.

“Hasil sensus ekonomi 2016, jumlah usaha di Palu menjadi empat puluh enam ribu seratus unit usaha,” jelas Wahyu Yulianto, Kabid Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Sulteng, Kamis (1/9)

Angka sebesar 28,6 persen tersebut, merupakan angka pertumbuhan paling rendah dibanding daerah kabupaten kota di Sulteng. Banggai Kepulauan tercatat menjadi kabupaten dengan pertumbuhan unit usaha paling tinggi di Sulteng.

Persentase pertumbuhannya dalam sepuluh tahun (dari tahun 2006 – 2016) sebesar 200 persen lebih, dari 5.700 unit usaha menjadi 17.200 unit usaha.

Selanjutnya, di urutan kedua Kabupaten Tojo Unauna dengan pertumbuhan unit usaha 134 persen lebih, dari 8.300 unit usaha menjadi 19.400 unit usaha.

Dari sisi kuantitas, Parimo tercatat sebagai kabupaten dengan jumlah unit usaha terbesar di Sulteng. Tahun 2016 ini, jumlah unit usaha di Kabupaten Parimo mencapai 59.500 unit, lebih dari 90 persen dibanding tahun 2006 lalu yang tercatat baru 31.400 unit usaha.

Wahyu Yulianto menjelaskan, berdasarkan hasil Sensus Ekonomi 2016, jumlah usaha non pertanian di Sulteng sebanyak 344,3 ribu usaha, atau meningkat sebesar 77,8 persen ketimbang julmah usaha hasil Sensus Ekonomi 2006 yang tercatat 193,6 ribu usaha.

Dari sebanyak 344,3 ribu usaha hasil Sensus Ekonomi, tercatat sebanyak 90,9 ribu usaha yang menempati abngunan khusus untuk tempat usaha. Dengan demikian, sebanyak 253,4 ribu usaha tidak menempati bangunan khusus usaha. Seperti pedagang keliling, usaha di dalam rumah tempat tinggal, usaha kaki lima, dan lain sebagainya.

“Dari hasil Sensus Ekonomi 2016, tantangan yang dihadapi Sulteng cukup berat di era persaingan bebas. Mengingat lebih dari 73 persen usaha tidak menempati bangunan yang khusus diperuntukkan bagi kegiatan usahanya,” jelasnya. Untuk itu, produktivitas dan daya saing usaha perlu ditingkatkan. (Harian Umum Radar Sulteng/ars)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*