Target Rehab Lapangan Vatulemo Selesai Akhir Agustus

Rehab Lapangan Vatulemo diupayakan akan selesai pada akhir Agustus. Hal itu disampaikan oleh site manager, Busman, pada Senin (8/8). Busman mengatakan, sesuai tender dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Palu, rehab lapangan dengan anggaran miliaran rupiah ini dimulakan sejak 25 Februari hingga 25 September 2016 atau 7 bulan masa pengerjaan.

“Tapi kalau target kita upayakan agar bisa digunakan untuk HUT Kota Palu. Artinya, kita menargetkan akhir Agustus sudah bisa rampung. Insya Allah kita juga tidak melewati kontrak,” jelasnya.

Dia mengakui, saat ini pengerjaan lapangan Vatulemo telah mencapai 82 persen.

“Kita mengukur capaian pekerjaan ini seetiap hari kamis, dan terakhir diukur sudah 82 persen,” ungkapnya.

Capaian tersebut, kata Busman, dapat dilihat dengan sudah terpasangnya paving yang berwarna hitam dan merah hampir di sekeliling lapangan. Paving ini nantinya akan ditempati oleh para UKM-UKM untuk berdagang.

“Ada paving juga sebagai akses jalan. Dia hanya dipasang begitu saja dan dihampar pasir di atasnya, selanjutnya akan diratakan menggunakan alat berat. Kalau untuk pejalan kaki dan UKM pasti kondisi pavingnya mampu untuk bertahan,” ujarnya.

Rumput lapangan pun mulai tumbuh seiring intensitas hujan yang tinggi beberapa hari lalu. Untuk penyiraman rumput pun dilakukan dengan dua cara, ada manual dan otomatis.

“Usia rumput sudah satu bulan, untuk perawatannya nanti dibantu dengan dua titik sumur bor. Rehab ini tinggal menyisakan pemasangan paving sebagian, keramik dan pengecatan pot tanaman, dan trotoar yang rencana akan dimulai hari ini,” sebutnya.

Dia mengungkapkan, setelah dirampungkan atau masa kontrak habis, masih akan ada masa pemeliharaan seluruh taman selama enam bulan ke depan. Pihaknya pun dapat memperbaiki kembali atau bertanggung jawab apabila kerusakan tersebut dikarenakan kelalaian pekerjaan. Sedangkan untuk kerusakan akibat bencana alam, mungkin tidak semua dibebankan kepada mereka.

“Kalau kerusakan tehradap tangan-tangannya pengunjung itu harus diperjelas, siapa tanggung jawab. Apalagi konsep rumputnya bukan untuk diinjak, beda kalau hanya digunakan untuk upacara atau hari besar keagamaan, itu tidak masalah. Yang dilarang itu event,” pungkasnya. (Harian Umum Radar Sulteng/acm)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*