Menghadirkan Wajah ‘Waterfront City’ di Kota Palu

SEORANG pakar arsitektur senior dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, Johan Silas, pernah menjawab sebuah pertanyaan dari seorang peserta seminar tentang konsep penataan kota apa yang paling cocok dikembangkan di Kota Palu. Jawaban yang diberikan sangat sederhana, bahwa Kota Palu mempunyai dua ikon yang layak untuk dijual dan dikembangkan. Ikon itu adalah sungai dan pantai. Dan secara menakjubkan Tuhan memberikan bentuk dua ikon itu menjadi seperti sebuah kepala kerbau dengan tanduknya.

Rasanya tak berlebihan apabila Rusdy Mastura dengan bangga berulang kali memperkenalkan ke dunia luar akan kelebihan multi matra yang dimiliki oleh kota Palu. Baik karena keberadaan sungai Palu yang membelah dengan sangat cantik kota Palu menjadi dua bagian mendekati sempurna. Kemudian teluk Palu dengan keelokannya mengisi bagian tengahnya dan diapit oleh bukit Gawalise di sebelah barat dan bukit Bulumasomba di sebelah timur-selatan. Ini adalah sebuah anugerah yang seharusnya menjadi rasa syukur kita sehari-hari karena telah ditempatkan menjadi bagian kehidupan yang memiliki matra yang lengkap.

Tentu saja Tuhan masih tetap ingin selalu menguji hambanya dengan kemungkinan ‘ketidaksempurnaan’ matra-matra tersebut. Kondisi geologis batuan lepas yang berpotensi longsor dan banjir, kekurangan air pada beberapa matra bukit atau yang paling mengkhawatirkan tentu saja potensi gempa yang cukup besar adalah contoh kemungkinan itu. Tsunami sudah pasti menjadi bagian yang patut diperhitungkan terkait denga potensi gempa tersebut.

Ramuan kedua keadaan berlawanan yang dianugerahkan kepada kita itu seharusnya dapat dijadikan dasar perencanaan pengembangan dua ikon di atas. Tentu saja karena dua ikon utama tersebut bersinggungan dengan air, maka Waterfront City adalah salah satu jawaban untuk awal sebuah pengembangan atas keberadaan anugerah tersebut. Secara perlahan kemudian kita perlu mengambil langkah yang sangat hati-hati dalam mengembangkan bagian tengah dan belakang kota agar kecantikan bukit yang mengapitnya tetap terjaga dengan baik.

Konsep waterfront city sebagai sebuah wajah kota adalah konsep yang dapat didefinisikan sebagai konsep pengembangan kawasan yang berhadapan dengan pesisir dan bantaran sungai dengan dukungan sumber daya alam, aksesibilitas, pola pergerakan penduduk yang mendukungnya. Konsep ini diharapkan dapat memberikan acuan pembangunan kawasan pesisir dan bantaran sungai, bukan saja pada tataran implementasi pembangunan fisik saja tetapi juga pada konsep cara berpikir seluruh pihak.

Kawasan pesisir dan bantaran sungai memiliki arti strategis karena merupakan wilayah peralihan antara ekosistem darat dan air, serta memiliki potensi sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang sangat beragam. Namun, karakteristik laut dan sungai tersebut belum sepenuhnya dipahami dan diintegrasikan secara terpadu. Kebijakan yang bersifat sektoral dan masih berorientasi daratan, akhirnya menjadikan laut dan sungai sebagai tempat pembuangan sampah semata.

Melalui konsep ini diharapkan akan mendukung penguatan kelembagaan masyarakat lokal, meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat setempat dan pada muaranya akan menciptakan sinergisitas pembangunan di daratan, sungai dan di lautan untuk kepentingan bersama.

Terbentuknya Forum Masyarakat Bantaran Sungai Palu dan Masyarakat Nelayan Teluk Palu merupakan langkah awal yang sangat baik dalam membangun paradigma tentang keniscayaan sebuah wajah yang harus ditata. Mengingat kawasan ini adalah sebuah kawasan yang telah eksis sejak kehadiran para pendatang terdahulu . Namun dalam perjalanannya kelembagaan ini seharusnya mampu eksis secara mandiri untuk ikut menanamkan secara terus-menerus paradigma berpikir tentang konsep penataan kawasan bantaran sungai dan pesisir.

Untuk itu perlu penguatan-penguatan kelembagaan ini secara internal maupun eksternal, sehingga kegiatan sederhana yang tidak memerlukan intervensi pemerintah dapat dilaksanakan sendiri oleh masyarakat. Bersama-sama dengan pemerintah masyarakat turut serta dalam menciptakan wilayah pesisir yang rapi dan bersih. Berpartisipasi mendukung sektor ekonomi melalui usaha-usaha kecil lokal tradisional. Ikut serta dalam melakukan pengawasan terhadap kelangsungan proses pembangunan Waterfront City. Memanfaatkan dan menjaga sarana prasarana yang ada sebagaimana mestinya. Mensosialisasikan manfaat terwujudnya Waterfront City bagi masyarakat pesisir dan bantaran sungai pada khususnya dan seluruh masyarakat Kota Palu pada umumnya sebagai objek pembangunan.

Kawasan pesisir dan bantaran sungai juga merupakan tempat bertemunya pendatang dari berbagai daerah, sehingga kawasan ini menjadi mozaik sosial dan budaya. Ekosistem yang sangat beragam, rumit dan produktif sebagian besar terletak di kawasan pesisir dan bantaran sungai. Sebagai contoh pada kawasan bantaran sungai Palu yang ditempati berbagai etnis pendatang seperti etnis Bugis, Minahasa, Jawa, Poso terlihat sangat jelas memperkaya entitas keberagaman itu.

Di sisi lain kondisi ini juga berpotensi menimbulkan dampak negatif lain apabila tidak di tata dengan baik seperti kekumuhan (slump), konflik sosial dan kriminalitas.

Pembangunan Jembatan Palu IV type Arch-Nielsen pada muara sungai Palu, yang berada persis di ‘kepala kerbau’ beserta kandungan filosofis dan kearifan lokalnya ikut menciptakan sebuah ikon baru sebagai sebuah landmark di wajah kota Palu. Dan secara perlahan keberadaan landmark ini sudah mulai diperhitungkan secara nasional. Begitu pula penataan kawasan pantai dari Kawasan Silae-Lere-Besusu Barat-Talise-Tondo telah mengubah sebagian wajah teluk Palu.

Kehadiran jalan lingkar teluk Palu ikut memberikan akses seluas-luasnya bagi hak setiap warga untuk menikmati pantai. Beberapa kota di Indonesia juga sudah mulai menerapkan konsep penataan Waterfront City seperti kota Surabaya, Pakanbaru, Bandar Lampung, Palembang, Ternate dan Ambon. Konsep ini menjadi sangat Indonesia mengingat hampir sebagian besar kota-kota penting di Indonesia berada di kawasan pesisir dan bantaran sungai. Konsep ini disusun untuk berfungsi sebagai pengaturan sekaligus langkah antisipatif terhadap potensi bencana yang sering melanda kawasan ini.

Kembali pada dua ikon penting di atas, maka sangat bijak apabila pemerintah Kota Palu meneruskan langkah-langkah yang cukup berarti pada penataan dua kawasan tersebut. Langkah-langkah perencanaan sebelumnya yang masih bersifat parsial, hendaknya ditindaklanjuti dengan langkah-langkah pengintegrasian agar dapat terwujud suatu grand strategi penataan yang lebih jelas dan terarah. Semua pihak bersama-sama ikut menghadapkan semua perhatian kita pada kawasan ini. Sehingga wajah kota yang bersinggungan dengan kawasan sungai dan pantai menjadi sebuah wajah yang menarik, nyaman, aman dan sehat.

Sumber : Radar Sulteng

Penulis : Singgih B Prasetyo (Sekretaris Dinas PU dan ESDM Kota Palu)
Di Publish Oleh : Administrator

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*