PRAKTEK WAWANCARA BERBASIS FAKTA PADA SEBUAH EVALUASI PROGRAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

Akhir minggu lalu di bulan maret, setelah menerima surat dari instansi yang menggawangi tentang pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat di kota palu yaitu Kantor Pemberdayaan Masyarakat, yang berisi undangan untuk membantu mereka dalam mengevaluasi suatu program pemberdayaan masyarakat yang berciri pengentasan kemiskinan.

Kutanyakan balik pada pada kawan yang menggawangi program tersebut, “apanya yang anda harapkan untuk kita lihat, prosesnya ataukah hanya pemeriksaan fisik dan keuangan semata dari kerja pemberdayaan tersebut?”

Pertanyaan tersebut sengaja dilontarkan, untuk mengetahui sasaran, target dan untuk apa menyertakan elemen lain, diluar instansinya untuk mengevaluasi pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat yang di-set dari pemerintah pusat yang diberlakukan secara massal diseluruh daerah di Indonesia.

Jawaban yang diberikan kawan tersebut ternyata cukup meyakinkan kami bahwa memang dia bersungguh-sungguh untuk mau melihat berbagai fakta kenyataan lapangan tentang berbagai laporan “sukses” yang sering diterimanya, baik dari segi penyaluran bantuan, ketepatan sasaran dan dalam pelaksanaan siklus proses suatu kegiatan pengentasan kemisinan yang berbasis partisipasi masyarakat.

Dalam hati sebenarnya kami sendiri ragu apakah bisa melihat itu secara utuh dari berbagai konteks dan fenomena seperti yang diharapkan oleh kawan tersebut, sebab waktu yang diberikannya pun tidak terlalu banyak hanya 2 hari untuk 4 kelurahan di wilayah kecamatan Palu Utara di Kota Palu.

Namun didorong oleh keinginan kuat untuk mau mempraktekan sedikit ilmu dan pengetahuan tentang metode metafasiltasi yang diperoleh langsung dari Wada dan Nakata pada waktu lokalatih tentang teknik evaluasi dan montoring berbasis partisipatoris yang dilaksanakan oleh CD Project di Makassar dalam 2 seri, membuat optimis bahwa hal ini adalah peluang untuk membuktikan bahwa metode tersebut bisa digunakan untuk membedah sesuatu yang sifanya tersembunyi (tacid) menjadi sesuatu yang rill, melalui serangkaian pertanyaan yang berbasis fakta.

Fakta versus Persepsi

“Sebaiknya sebelum kita singgah kesekretariat pelaksana tempat pertemuan maka kita keliling-keliling dulu diwilayah ini, untuk observasi awal” kataku pada kawan yang menyertaiku, sembari menjelaskan maksud dan manfaatnya adalah untuk memperoleh gambaran awal tentang berbagai hal dan fenomena yang teramati dilingkungan pelaksanaan kegiatan ini, termaksud mengumpulkan berbagai fakta dan informasi yang ada di lokasi atau wilayah pegamatan, dan pelaksanaan pengamatan ini bisa sangat berguna untuk membantu kita menyusun suatu dugaan awal tentang bagaimana kegiatan ini sebenarnya dilaksanakan dan responnya teradap masyarakat miskin sekitar wilayah ini, ujarku menjelaskan padanya.

Setelah selesai mengelilingi wilayah pengamatan maka selanjutnya menuju pada tempat pelaksanaan pertemuan dengan kelompok pelaksana dan fasilitator kegiatan, setelah tiba dilokasi ternyata kami sudah disambut oleh ketua kelompok masyarakat bentukan program tersebut, sembari menyodorkan berbagai laporan kegiatan lengkap dengan neraca dan laporan administrasi lainnya, dari informasi tersebut nyatalah bahwa seluruh rangkaian kegiatan telah selesai 100 % menurut laporan realisasi fisik dan keuangannya.

Kamipun memberikan apresiasi yang baik terhadap hasil kerjanya dan ketua kelompok serta fasilitator dengan bangga bercerita tentang rangkaian proses yang dia laksanakan dengan sering mengulang kata “partisipasi masyarakat” dalam keseluruhan rangaian kegiatan tersebut.

Kami tertarik untuk mengambil entri point pengamatan tentang proses perumusan perencanaan awal yang selanjutnya dijadikan dasar untuk pelaksanaan rangkaian proses kegiatan, “bahwa massage awal dari kegiatan ini adalah pengentasan kemiskinan, apakah ada data mengenai orang miskin dan sebarannya ?” tanyaku memulai percakapan, dan informasi yang kami peroleh bahwa seluruh data tersebut menyangkut nama dan lokasi sebarannya memang ada dan siklusnya telah selesai pada tahap perencanaan awal kegiatan.

Yang menarik adalah ketika sampai pada pertanyaan “kapan dilaksanakan pertemuan menyangkut perencanaan kegiatan ini dan siapa saja yang hadir ?” maka nyatalah bahwa informasi yang diperoleh bahwa dalam pertemuan perecanaan tersebut nyaris tidak lagi menyertakan orang-orang yang dianggap miskin dari pendataan yang telah dilaksanakan, namun validitas hasil perencanaan sudah dianggap terdelegasikan dan terepresentasi oleh kehadiran beberapa orang yang dianggap sebagai tokoh masyarakat.

Dan mengalirlah proses wawancara tersebut dengan beberapa kali mengalami bifurcation point (ttik percabangan) dalam proses wawancara tersebut, dan proses analisa dari keseluruhan rangkaian pertanyaan, memang laksana merangkai sebuah permainan puzzle, dalam pengalaman pelaksanaan maka memang menjadi perlu adanya suatu strategi besar dalam membingkai pertanyaan agar dapat benar-benar memperoleh informasi sesuai yang diinginkan dari suatu proses wawancara dan pengamatan disuatu lokasi.

Fakta perencanaan dan pelaksanaan yang diperoleh dibeberapa kelurahan yang dilakukan pengamatan adalah bahwa massage awal program yaitu pengentasan kemiskinan, ternyata telah direduksi dengan mengintervensi melalui kegiatan pembangunan infrastruktur fisik semata seperti pembangunan drainase,

“ini semua sudah melalui proses perencanaan yang partisipatif” jelas fasilitator tentang keseluruhan rangkaian proses perencanaan yang dilakukannya. Kawan saya berkata sambil setengah berbisik “coba cari dan galikan informasi dan fakta yang sebearnya tentang mengapa drainase menjadi sangat penting sehingga seluruh angaran hanya digunakan hanya untuk pembangunan drainase semata tanpa ada kegiatan lainnya ataukah jangan-jangan ini hanya persepsi pengurus kelompok dan fasilitator semata dalam memandang persoalan kemiskinan ?”

“OK deh, bagaimana kalau kita kelapangan bersama untuk melihat hasil pembangunan drainase yang telah selesai dan yang sementara dilaksanakan” ajakku pada fasilitator dan ketua kelompok bentukan proyek tersebut.

Idealnya suatu kegiatan atau proyek dilaksanakan adalah ingin menyelesaikan permasalahan yang ada dilapangan atau dengan kata lain kehadiran suatu proyek atau kegiatan adalah obat bagi penyembuhan suatu penyakit baik social maupun ekonomi yang ada dimasyarakat, kalaulah drainase sebagai suatu pilihan tunggal untuk dilaksanan diwilayah ini ini sebagai suatu kegiatan, yang kita anggap sebagai obat, maka penyakit apa yang telah diselesaikan dengan adanya pembangunan drainase, ujarku sambil mulai berdiskusi dilapangan dengan faslitator dan ketua dan beberapa pengurus kelompok,

“Mengatasi banjir”, itulah jawaban yang diperoleh, tentang alasan dipilihnya drainase sebagai suatu kegiatan tunggal untuk mengatasi kemiskinan dan lingkungan disekitar daerah tersebut, “kalau begitu kapan banjir terakhir yang menggenangi wilayah sekitar sini ?” dari jawaban yang diperoleh ternyata banjir terjadi sudah lama sekitar beberapa tahun lalu ketika terjadi musim hujan yang intens yang memang merata dihampir seluruh wilayah sekitar daerah pengamatan, dan airnya berasal dari air limpasan dari daerah yang lebih tinggi topografinya.

“lantas kapan terakhir hujan deras terjadi disekitar daerah sini ?” tanyaku lagi, dari jawabannya diperoleh informasi ternyata baru kemarin malam terjadi, sehingga didaerah yang telah selesai dibangunkan drainase ternyata masih banyak terdapat genangan air baik dijalanan maupun disekitar rumah masyarakat.

Ternyata dari fakta dan informasi yang diperoleh bahwa, prinsip partisipasi yang selalu dikemukakan dan digunakan sebagai dasar pembenaran terhadap pelaksanaan interfensi teknis infrastruktur sebagai solusi permasalahan kemiskinan dan lingkungan ternyata, dipenuhi oleh alasan persepsi dalam proses perencanaannya, sebab orang-orang miskin yang namanya telah dicantumkan sebagai kelompok sasaranpun, menjadi bingung dan tidak mengetahui tentang manfaat langsung adanya drainase untuk menyelesaikan masalah kemiskinan mereka.

Memang menjadi penting untuk bersama-sama meletakan dasar partisipatoris dalam keseluruhan rangkaian pelaksanaan kegiatan, baik dari perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi, dalam hal ini pehamanan yang benar terhadap proses partisipasi yang substansial menjadi lebih penting ketimbang hanya sekedar menjadi sebuah syarat formal dari pelaksanaan mekanis sebuah pelaksanaan partisipasi prosedural seperti yang sering di drive-kan oleh lembaga donor atau konsultan dari pusat.

Saya kembali teringat sebuah pesan dari wada san ditautan facebooknya ketika saya mengirimkan sebuah pesan untuknya, ia menuliskan “if I find it, I will use it”,

Pada saat ini saya mulai sedikit paham bahwa, jalan metafasilitasi ini memang harus ditempuh dengan cara masing-masing, lokalatih yang diberikan dalam 2 sesi kemarin ternyata hanya sekedar laksana marcusuar yang akan menggiring kita kearah tujuan yang ingin kita capai, tapi menyangkut untuk bisa sampai dan teknik apa yang digunakan, maka itu kembali pada diri dan kemampuan kita masing-masing untuk mengembangkannya, wallahu alam.

Penulis : Oleh : Ibnu Mundzir (Kasubag. Perencanaan Program Bappeda & PM Kota Palu)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*