Grean and Clean Perlu Digiatkan (19 Juni 2016)

Tingkat kepedulian masyaraat Kota Palu terhadap kebersihan lingkungan masih terbilang rendah. Akibatnya, banyak sampah berserakan di sembarang tempat, mulai dari drainase, pinggir jalan raya, hingga lorong, bahkan di tepi pantai. Selain mengesankan bahwa Palu adalah kota yang kotor, dampak lainnya dapat mengganggu kesehatan, apalagi bagi anak-anak.
Menurut salah seorang dosen senior Ilmu Gizi Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Tadulako, DR Nurdin Rahman M.Si, M.Kes, ada tiga hal yan gperlu dilakukan dalam mengelola kebersihan lingkungan. Pertama, mengubah budaya, perilaku masyarakat yang membuang sampah sembarangan. Kedua, regulasi yang harus dimaksimalkan pemerintah. Ketiga, adanya sarana dan prasarana yang mendukung terciptanya lingkungan yang bersih dan sehat.
Diterangkan Nurdin, akibat sampah yang menumpuk dan bertebaran di sembarang tempat, nantinya akan berdampak pada kesehatan, yang secara tidak langsung menjadi penyebab gizi kurang, khususnya pada balita. Contohnya, keetika anakanak bermain di lingkungan yang tidak bersih, boleh jadi akan cacingan. Saat menderita cacingan atau diare, maka akan mempengaruhi zat gizi dalam tubuhnya.
Dari lingkungan yang tidak bersih itu, lanjut Nurdin, muncul penyakit infeksi. Antara lain infeksi saluran penapasan akut (ISPA), diare, dan bisa juga TBC. Ini mempengaruhi kenaikan berat badan anak-anak maupun orang tua. Tapi anak-anak lebih rentan terhadap penyakit dan lebih peka terhadap lingkungan.
Solusinya adalah harus ada perubahan budaya masyarakat untuk lebih mencintai kebersihan lingkungan, yang didukung regulasi dan sarana memadai. Peran pemerintah kelurahan juga sangat penting dalam mengawasi perilaku masyarakat di wilayahnya. Terkait budaya yang ada pada masyarakat, dia mengakui masih sangat minim dalam hal kepedulian terhadap kebersihan lingkungan. Ia memberi contoh pada masyarakat Australia. Mereka sangat peduli pada kebersihan, saat membuang sampah, benar-benar dibuang ke tempat sampah yang disediakan.
Selain adanya perubahan budaya, perbaikan regulasi serta adanya sarana dan prasarana penunjang demi terciptanya lingkungan bersih dan sehat, saat ini green and clean perlu digiatkan.
Kata Nurdin, green atau penanaman pohon memiliki banyak fungsi. Di antaranya, dapat menyerap karbondioksida (CO2), di mana CO2 merupakan penyebab pemanasan global.
“Jadi kalau diserap CO2 bisa mengurangi pemanasan global melalui proses fotosintesis,” terangnya.
Kedua, lanjut Nurdin, penanaman pohon bisa mengurangi kebisingan. Ketiga, dapat menyerap polutan (pencemar) logam berat.
Masalah clean (kebersihan), dia menyinggung banyaknya selokan atau drainase di Kota Palu yang tidak berfungsi dengan baik. Salah satu contohnya di Kelurahan Talise, tepatnya di sekitaran SPBU Pertamina Jalan Yos Sudarso. Di mana jika terjadi hujan, air akan menggenangi jalanan.
Selanjutnya, Nurdin menandaskan, jika ingin menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat, perlu mengurangi pembakaran dan meningkatkan penanaman pohon. Sampah tidak boleh dibakar, karena dapat menyumbang gas CO2 yang dapat mengakibatkan pemanasan global. Saat ini adalah era plastik, di mana hampir semua kebutuhan kehidupan cenderung instan, termasuk dalam penggunaan plastik. Plastik yang telah digunakan dan dibuang tidak boleh dibakar, termasuk pipa.
“Karena akan menghasilkan zat kimia yang namanaya dioksin. Dioksin pemicu kanker. Termasuk koran tidak boleh dijadikan pembungkus makanan,” terangnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*